petrichorslines

“Kita beneran gak usah bawa makanan apa-apa, Rae?”

“Iya, Sayang. Kamu udah nanya berkali-kali, loh.”

Ini sudah ke enam atau tujuh kalinya Kayana bertanya hal yang sama, membuat Raechan gemas sendiri dibuatnya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Studio Jevan. Teman-teman mereka sudah berada di sana sejak pukul empat sore, sedangkan mereka baru bisa menyusul pada pukul tujuh malam setelah Kayana menyelesaikan tugasnya di LPP.

“Aku gak enak deh gak bawa apa-apa.”

Raechan menyentuh jari jemari Kayana dengan lembut dengan sebelah tangannya, sementara satu tangannya yang lain memegang setir mobil, “Gak papa, Sayang. Biasanya kalau mereka gak nitip apa-apa artinya di studio udah banyak makanan. Udah kamu tenang aja deh.”

Kayana mengangguk tenang kemudian menatap ke arah jalanan yang entah kenapa malam itu sangat lengang. Raechan membelokkan mobilnya ke sebuah perumahan dimana studio Jevan berada. Hanya membutuhkan lima menit dari pintu gerbang untuk sampai ke studio milik Jevan itu.

Setibanya di sana, Raechan memakirkan mobil di halaman samping. Kemudian dia meraih tas punggungnya sendiri dan tas milik Kayana dari bangku belakang dan keluar dari mobil. Mereka berjalan beriringan dan merasa sedikit heran kenapa tidak terdengar suara apapun dari dalam. Padahal biasanya suara teman-teman mereka itu bisa terdengar hingga keluar studio.

Raechan melangkahkan kakinya sedikit lebih cepat dan membukakan pintu untuk Kayana. Mereka semakin heran karena suasana di dalam studio sangat gelap dan sepi sekali. Padahal jelas-jelas di depan studio tadi, Kayan dan Raechan melihat mobil Markio, Jevan dan juga Jaenandra—yang artinya mereka semua ada di sini.

Dengan terheran-heran mereka tetap masuk ke dalam studio, tangan Raechan meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu. Namun belum sampai dia menemukannya, sebuah cahaya lampu memantul dari sisi kanan studio, cahaya itu mengarah pada dinding di sebelah kiri. Awalnya itu hanya pantulan cahaya biasa lalu lama-lama sebuah video terputar di sana.

Dalam video itu terlihat potongan-potongan video momen saat mereka berlibur di pulau pribadi milik Jaenandra kemarin. Lalu tiba-tiba video itu berhenti, tergantikan oleh kalimat-kalimat yang ditulis entah oleh siapa,

Kak Kayana.... The moment Raechan told us that he wants you, we didn't believe that. Cause you know, he was such a bastard. It was strange to hear someone like him want to have a serious relationship with only one girl. But he shows us... He shows us that he really want you. Just for himself. He does everything to caught your attention. He puts his heart in everything he does. And we are glad you felt his sincerity.

Kak Kayana, He might be Raechan that always looks so playful and naughty. But Dama told us that he is a reliable big brother for Selo and him. And he is such a good friend for us.

So, Kak Kayana.... We are grateful that you are agree to be his girlfriend. We hope you guys have a long and healthy relationship.

With Love, Markio, Jevan, Jaenandra, Juan, Klarisa and Jelena.”

Lalu kalimat-kalimat itu tergantikan lagi dengan,

PS : We will show you the proof😋.”

Setelah itu, yang terlihat dalam video itu adalah puluhan tangkapan layar dari obrolan group Raechan dan sahabat-sahabatnya. Dari tangkapan layar itu Kayana bisa melihat berulang kali Raechan mengeluh karena Kayana mengabaikannya, lalu sesekali juga Raechan memamerkan kebahagiannya karena mendapat respon baik dari Kayana.

Tanpa sadar, butir-butir air mata turun begitu saja di pipi gadis cantik itu. Dia merasa begitu dicintai. Tidak hanya oleh Raechan, namun juga sahabat-sahabatnya.

Kayana belum pernah merasa sebahagia ini. Benar memang semenjak dulu banyak sekali yang mendekatinya, tapi tak ada yang memberinya perasaan “diinginkan”, “diterima” dan “dicintai” sebanyak yang Raechan berikan kepadanya.

Belum habis rasa haru Kayana, dari ruang band dia melihat cahaya lilin yang menyala-nyala. Dari cahaya temaram itu Kayana bisa melihat wajah berseri-seri mereka semua.

SUUUUURRRPRIIIISEEEE

Pekikan semangat itu diiringi dengan suara letupan party pooper.

“Tiup lilinnya dulu Rae, Kak.” Klarisa—si pemegang kue—mendekat pada mereka. Lalu Kayana dan Raechan meniup lilin itu bersamaan. Setelahnya, lampu studio menyala dan Kayana bisa menangkap senyum bahagia dari semua yang ada di sana.

“Selamat ya, Kak, udah jadi pacar Raechan. Betah-betah.” Jelena menyerahkan sebuket bunga lily putih pada Kayana dan mendekat untuk memberi pelukan.

“Makasih ya semuanya.” Hanya itu yang keluar dari mulut Kayana tapi dalam hatinya dia tidak berhenti bersyukur.

“Oke sekarang makan yuk? Gue laper banget sumpah, kalian lama banget datengnya.” Jevan berbicara sembari mengusap-usap perutnya.

“Halah ngerusak suasana aja lo.” hardik Juan kesal, tapi toh laki-laki itu juga ikut mencomot satu potong pizza dari meja.

“Eh, Rae, tadi pas di parkiran ada yang datengin gue sama Juan. Dia minta nomor lo, kayaknya kating.”

“Hah siapa, Jev?”

“Gak tau, kayaknya angkatan Kak Kayana sama Kak Kiyo.”

“Cowok?” tanya Raechan lagi.

“Iya, cowok. Katanya dia punya urusan sama lo.”

Raechan mengangguk sebagai jawaban untuk Jevan meskipun dia belum tahu siapa yang mencarinya itu.

Sedangkan Kayana saling lempar pandang dengan Markio, tanpa diketahui yang lainnya.

Saat keluar dari pintu belakang, Kayana mendapati Raechan tengah menunggunya di dekat bunga mawar yang berada di halaman belakang vila milik Jaenan. Seperti biasa, saat Kayana mendekat, Raechan akan langsung membuang dan menginjak rokok yang sedang dia hisap—tidak perduli apakah rokok tersebut sudah habis atau belum.

“Mau kemana sih?” tanya Kayana penasaran yang tidak langsung dijawab oleh Raechan.

“Mau bunga gak? Yang ini cuma setangkai tapi, gak banyak kayak yang dibawain cowok yang naksir Kak Kayana kemarin.”

“Gak usah, makasih.”

Raechan hanya mengangkat bahunya acuh kemudian kakinya melangkah mendahului Kayana, “Di belakang vila ini pantainya lebih bagus, gak banyak pohon palem kayak yang di depan vila. Saya mau ajak Kak Kayana kesana.”

Kayana hanya diam dan terus mengikuti langkah Raechan. Setelah berjalan kurang lebih selama sepuluh menit, mereka tiba di sebuah hamparan luas pasir putih yang mengarah ke pantai. Benar kata Raechan, tidak ada satupun pohon palem di sini, sehingga hamparan pasirnya terlihat luas sekali.

“Gimana? Suka gak?” Lagi, tiap kali merasa dirinya menang akan sesuatu, Raechan akan selalu bertanya dengan nada mengejek dan sombong yang menyebalkan, “Gak rugi kan ikut saya? Lagian udah jauh-jauh naik yacht kok malah nonton film di vila, ya mending jalan-jalan, nikmatin alam.”

Laki-laki itu duduk di pasir pantai dan membuka jaketnya. Dia meletakkan jaket itu di pasir—sebagai alas Kayana duduk— dan menepuknya pelan, “Sini, Kak, duduk. Berdiri aja kaya lagi dihukum.”

Kayana menurut tanpa protes. Dia duduk di sebelah Raechan yang sekarang memandang ke laut lepas yang terlihat begitu kelam namun indah karena tertimpa cahaya bulan.

“Kak Kayana seneng gak di sini?”

“Seneng lah, liburan gratis, orang-orangnya asik-asik, banyak makanan lagi!”

“Kalau saya gak ada di sini, Kak Kayana bakal tetep seneng, gak?”

Kayana terkekeh pelan, “Enggak akan seseneng ini kayaknya.”

“Kalau gitu, saya boleh cium Kak Kayana, gak?”

Raechan bertanya dengan nada begitu santai, hingga membuat Kayana kesal karena kalimat seperti itu keluar begitu saja dari bibir Raechan. Pertanda laki-laki sering menanyakan hal yang sama pada gadis-gadis lain.

“Gue cewek ke berapa yang lo tanya kayak gitu?”

“Cewek pertama, soalnya biasanya saya gak pernah nanya dulu kalau mau cium cewek.”

Kayana makin kesal dibuatnya.

“Boleh gak, Kak? Saya kan udah bilang, saya bakal minta izin untuk dua hal, izin cium Kak Kayana untuk pertama kali dan minta izin dari Om Gati untuk nikahin Kak Kayana.”

“Gak boleh.” jawab Kayana sebal, “Gue gak mau dicium sama orang yang gak punya status apa-apa sama gue.”

“Ya udah kita pacaran aja kalau gitu. Gimana?”

Sungguh, kepala Kayana seakan mau pecah saat ini. Ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Raechan seperti kalimat remeh yang tidak ada artinya. Sedangkan untuk Kayana, kalimat-kalimat itu adalah kalimat sakral yang harus diucapkan dengan penuh kesungguhan.

Kayana bangkit berdiri, henda meninggalkan Raechan di pantai yang sepi itu.

“Kalau Kak Kayana pergi dari sini, artinya Kak Kayana marah. Dan kalau Kak Kayana marah sama omongan saya, artinya Kak Kayana mau jadi pacar saya.”

Langkah Kayana berhenti namun dia masih membelakangi Raechan yang sekarang juga ikut berdiri dari duduknya.

“Kak Kayana pasti berharapnya saya nembak Kak Kayana pake buket bunga sama lilin yang ditata bentuk love gitu ya? Terus ada iringan live band gitu, iya gak?” Raechan terkekeh atas perkataannya sendiri, “Cahaya lilinnya saya ganti pake cahaya bulan aja gimana? Suara musiknya pake suara ombak, terus buket bunganya saya ganti pake ini.”

Karena penasaran, Kayana membalikkan tubuhnya untuk kembali menatap Raechan. Dia ingin tahu apa yang Raechan siapkan untuk mengganti buket bung yang seharusnya dia terima.

Dari tempatnya berdiri, Raechan tersenyum sembari menunjukkan sebuah kalung yang terlihat berkilat-kilat. Liontin yang mengantung di kalung emas putih itu berbentuk huruf K yang dihiasi dengan bunga-bunga kecil yang indah.

Raechan berjalan mendekat, mengenakan kalung itu di leher Kayana, “Cantik, kayak yang pake.” ucapnya lembut.

“Saya bukannya gak mau nembak Kak Kayana kayak yang orang-orang lakuin, saya cuma pengen kalau nanti saya cerita ke Sergio soal gimana saya nembak Kak Kayana, anak itu bakal kagum sama cerita papanya karena udah nembak mamanya dengan cara yang gak biasa.”

“Sergio?” tanya Kayana heran, karena baru mendengar nama itu, “Sergio siapa?”

“Nama anak pertama kita nanti.”

Sungguh, Kayana benar-benar tidak bisa memahami jalan pikiran Raechan malam ini.

“Gimana? Saya udah boleh cium Kak Kayana belum?”

“Boleh.”

Atas persetujuan itu, bulan dan air laut menjadi saksi betapa mendambanya Raechan pada Kayana.

Perjalanan menuju private island milik ayah Jaenandra membutuhkan waktu sekitar 45 menit dari dermaga kapal pesiar. Jaenandra mengemudikan kapal pesiar itu seorang diri karena telah memiliki lisensi legal untuk mengemudikannya. Rasanya hari ini, Kayana tak habis-habis dibuat takjub oleh sahabat Raechan itu. Fakta bahwa Jaenandra adalah anak dari keluarga kaya raya hingga memiliki lisensi kapal pesiar.

Markio memilih untuk menemani Jaenandra dibalik kemudi kapal, lalu yang lainnya duduk di bagian depan kapal. Sinar matahari siang itu cukup terik hingga membuat mereka semua harus mengenakan kaca mata hitam sebagai perlindungan.

Ketika mimpimu yang begitu indah Tak pernah terwujud, ya sudahlah Saat kau berlari mengejar anganmu Dan tak pernah sampai, ya sudahlah Apa pun yang terjadi Ku 'kan s'lalu ada untukmu Janganlah kau bersedih 'Cause everything's gonna be okay

Suara Raechan dan Juan memenuhi area depan kapal, sedangkan Jevan hanya mengiringi nyanyian mereka dengan gitar yang dimainkannya dengan piawai. Lagu demi lagu mereka nyanyikan hingga mereka pun kelelehan.

“Udahan ah, aus.” kata Raechan akhirnya, tangannya meraih sebotol air dingin dari atas meja. Ditenggaknya minuman itu sampai hanya tersisa setengah, “Minum, Kak?” tawar Raechan pada Kayana.

“Dih masa Kak Kayana dikasih sisa gitu, sih.” Jelena mendengus sewot sedangkan Kayana meraih botol minum itu tanpa keberatan, “Gak papa, El.” jawabnya lembut.

“Kalian tuh sahabatan udah lama ya?” Kayana bertanya pelan, tiba-tiba merasa penasaran dengan asal mula persahabatan orang-orang yang kini dekat dengannya.

“Lumayan, Kak.” jawab Jevan, “Dari Ica sama Elena masih dekil deh pokoknya.”

Klarisa terkekeh mengiyakan sedangkan Jelena bersungut-sungut menatap Jevan, “Dih gitu-gitu juga lo dulu naksir gue.”

“Jevan pernah pacaran sama Elen?” tanya Kayana antusias.

“Gak sampe pacaran, Kak. Tuh si Jepan bego banget, udah tau naksir Elen tapi masih tetep aja deketin cewek sana-sini. Ya Elen ogah lah, mending sama Kak Kiyo yang jelas kelakuannya.” Juan menjelaskan dengan semangat. Kayana sampai bingung dibuatnya. Bingung karena melihat mereka bisa membahas hal sesensitif ini dengan begitu santai—yang artinya mereka sudah berdamai dengan keadaan.

“Makanya saya kagum sama Raechan, Kak. Pas dia bilang mau serius sama Kak Kayana, dia bener-bener nepatin omongannya. Saya saksinya. Dia sama saya tuh dulu gak jauh beda kelakuannya. Tapi sekarang, saya acungin jempol deh buat dia. Dia beneran lepas sama semua karakter bangsat di hidupnya soal cewek.” Jevan menatap malas ke arah Raechan yang tersenyum sombong dari tempatnya duduk, “Aslinya saya males ngomong begini di depan dia. Liat aja tuh mukanya.”

“Makasih loh, Jev, udah muji gue.”

Taik.” balas Jevan.

Angin berhembus lebih cepat saat Jaenandra menaikkan kecepatan kapal pesiar. Pulau pribadi milik ayah Jaenandra sudah mulai terlihat meskipun jaraknya masih cukup jauh. Bau air laut tercium, suara ombak yang bertabrakan dengan kapal juga semakin keras terdengar.

Next time main ke rumah gue, lah. Ayah sama Bunda udah nanyain tuh.” Suara Klarisa terdengar sayup-sayup dikalahkan suara angin.

“Emang rumah kamu dimana, Ca?” Kayana sampai harus menaikkan volume suaranya agar terdengar.

“Di perkebunan, Kak. Enak deh tempatnya, adem.”

“Ayahnya Ica juragan tuh, Kak. Rumahnya yang di perkebunan udah kaya rumah di sinetron-sinetron.”

Mereka terkekeh atas komentar Juan yang terdengar lucu di telinga mereka.

“Sayang banget gue gak bisa nawarin rumah gue buat didatengin sama kalian.” Meskipun isi dari ucapannya agak menyedihkan, Jevan mengatakan hal tersebut dengan santai, “Papa saya gak pernah di rumah, Kak. Kalaupun pulang juga cuma marah-marah, makanya saya lebih suka di studio. Ya meskipun itu studio dikasih sama Papa saya juga sih. Tapi seenggaknya, gak ada suara teriakannya di sana.”

Kayana tertegun, dari balik kaca mata hitamnya dia menatap khawatir ke arah Jevan.

“Ya tapi gak papa lah, kalau lagi butuh kasih sayang orang tua, saya bisa cari orang tua mereka semua nih, udah kaya orang tua saya juga soalnya.”

“Ayah saya aja lebih sayang sama Jevan kayaknya, Kak. Apa lagi adik saya si Dama tuh, lebih demen ngajak futsal Jevan dari pada abangnya sendiri.” tambah Raechan.

“Ya lo bego sih gak bisa main futsal. Bukannya lo tendang, malah lo bawa pake tangan tuh bola sampe ke gawang.” Kalimat Jevan diakhiri dengan toyoran pelan di kepala Raechan.

Lalu suara tawa terdengar lagi, kali ini lebih keras. Membuat Jaenandra dan Markio mengintip dari tempatnya.

“Ngomongin apa sih? Seru amat kayaknya!”

“Gak usah kepo! Udah nyetir ae yang bener! Keburu mabuk laut nih gue gak nyampe-nyampe!”

Siang itu, Kayana belajar lagi tentang persahabatan dengan melihat Raechan dan sahabat-sahabatnya.

Siang itu, Kayana merasakan lagi kehangatan yang lama tak dirasakannya.

Siang itu, Kayana mensyukuri bahwa dengan mengizinkan Raechan masuk ke hidupnya membuatnya mendapatkan kenyaman yang baru dirasakannya.

Siang itu, Kayana semakin membuka hati seluas-luasnya untuk Raechan.

Jika bisa dipersentase, kekuatan Kayana untuk membuka matanya saat ini hanyalah kurang dari 20 persen. Rasa kantuk benar-benar menguasai dirinya. Belum lagi rasa lelah yang semakin membuat Kayana ingin cepat-cepat pulang ke rumah, mandi dengan air hangat kemudian merebahkan dirinya di atas kasur empuk dan bersembunyi di balik selimut hangat.

Kayana bersandar pada mobil Raechan sembari menunggu laki-laki itu selesai dengan urusan terkahirnya di dome. Sayup-sayup Kayana mendengar suara tawa dan langkah ramai yang mendekat ke area parkir. Diperkirannya bahwa itu adalah rekan anggotanya yang juga sedang menuju mobil mereka untuk pulang. Kayana memilih untuk mengabaikan suara-suara itu hingga ada seseorang yang berjalan ke arahnya dan berucap meledek, “Oh si cantik masih disini ternyata. Kirain udah pulang.”

Kayana masih diam, belum berniat membalas ucapan tak mengenakkan itu.

“Kemarin aja masih jam kampus udah kabur entah kemana.” tambah orang lagi.

Kayana hanya menghembuskan napas panjang, dia benar-benar malas meladeni racauan orang itu—Dona.

Masih belum menyerah, Dona kembali berucap, “Gue denger semalem Rian kesini, ngadu lo sama dia?”

“Saya gak ngomong apa-apa ke Kak Rian.” jawab Kayana jujur, namun ternyata belum mampu untuk membuat Dona diam.

“Halah, udah tukang lari dari tugas, tukang ngadu lagi.”

Mendengar kata-kata itu, kesadaran Kayana kembali sepenuhnya. Perasaan lelah dan kantuknya tiba-tiba hilang entah kemana.

“Kak, kalau mau bahas kesalahan saya di LPP gak usah bawa-bawa Kak Rian bisa? Saya rasa Kak Dona udah cukup dewasa untuk bedain mana masalah organisasi dan mana masalah pribadi.”

“Si paling dewasa,” Dona berdecih, “Bisa masuk LPP karena cakep aja bangga lo.”

Amarah Kayana menumpuk di kepala, tapi dia tetap berusaha menahan semua gejolak panas itu.

“Kak, kayaknya kita sama-sama capek ya hari ini. Jadi mending Kak Dona pulang, istirahat, saya juga mau pulang.”

Kayana sudah akan masuk ke mobil Raechan sebelum dengan cepat Dona mendorong tubuhnya hingga Kayana jatuh ke tanah. Kedua tangannya menghantam permukaan tanah dengan cukup kuat, membuat telapak tangannya terasa perih.

“DONA!” jerit salah seorang senior LPP yang tadi datang bersamaan dengannya. Seseorang itu berusaha menarik Dona untuk pergi dari area parkir, “Kayana kita minta maaf, ya.” Kalimat itu yang terdengar sebelum mereka berdua pergi menjauh.

Setelahnya, suara langkah kaki lain terdengar mendekat, diiringi uluran tangan untuk membantu Kayana berdiri, “Kak Kayana gak papa?

Childish.” bisik Kayana pelan, sepelan hembusan angin namun Raechan masih bisa mendengarnya.

“Ada yang luka, Kak?” tanya Raechan khawatir sembari memperhatikan telapak tangan Kayana.

“Gak ada, Rae. Gue gak papa.”

“Tadi itu kenapa, Kak?”

“Biasa lah, urusan hati dibawa-bawa ke organisasi. Ya gitu jadinya.” Kayana menghembuskan napasnya sekali lagi, “Gue pengen pulang, Rae.”

“I... iya, kita pulang, ya.”


Pukul sebelas malam mobil Raechan memasuki area perumahan dimana Kayana tinggal. Mobilnya dia berhentikan di depan sebuah rumah bergaya sederhana dengan banyak tanaman hias di depannya. Terlihat seorang laki-laki tengah duduk di teras depan.

Raechan turun dari mobil kemudian bergerak untuk membuka bagasi belakangnya, tempat dimana Kayana menyimpan dua tas berisi keperluannya selama dua hari menginap di kampus kemarin.

“Ayah kok belum tidur?” Meskipun sedang cukup sibuk, Raechan masih bisa mendengar suara Kayana yang saat ini sudah berjalan menuju ke tempat ayahnya duduk.

“Ayah nungguin kamu pulang.” jawab laki-laki bernama Gati itu, “Raechan mana?”

Kayana menatap ke arah mobil, “Itu dia lagi nurunin barang-barang aku.”

Raechan tersenyum simpul sembari menutup bagasinya kembali, dia menenteng tas Kayana dan berjalan ke arah teras rumah, “Jam segini kok duduk di teras sih, Om? Gak takut masuk angin?”

Gati terkekeh pelan, “Badan Om ini sehat, Rae. Angin aja minder mau masuk.”

“Wah keren-keren.” Raechan ikut terkekeh.

“Masuk dulu, Rae?”

“Makasih banyak, Om. Tapi saya langsung pamit aja, ya? Udah jam segini soalnya.”

Gati terseyum lembut dan menepuk bahu Raechan pelan, “Yaudah kalau gitu, hati-hati nyetirnya, ya. Dan makasih udah anter Aya pulang.”

Raechan mengangguk, “Sama-sama.” Diraihnya tangan Gati untuk kemudian dia cium, “Saya pamit, Om.”

“Aya anter Raechan ke mobil ya, Yah.”

“Iya, Ayah masuk, ya.”

Raechan berjalan kembali ke mobil, di belakangnya Kayana membuntuti.

“Makasih ya, Rae, udah anter gue pulang.”

Bukannya membalas ucapan terimakasih itu, Raechan menatap Kayana dalam dan bertanya, “Kak Kayana beneran gak papa?”

Gadis itu tidak langsung menjawab, dia membalas tatapan Raechan dengan sama dalamnya.

“Kalau ada yang sakit bilang ke saya, kalau Kak Kayana lagi ngerasa sedih atau marah juga bilang aja ke saya, Kak Kayana punya saya, jangan dipendem sendirian.”

Kedua tangan Kayana mengepal kuat. Perasaan yang coba ditahannya sejak tadi meluap-luap. Perasaan marah, tidak terima, benci dan malu atas apa yang Dona lakukan padanya.

“Saya boleh peluk Kak Kayana?” Raechan bertanya pelan saat menyadari tak ada satupun kata yang keluar dari mulut Kayana.

Raechan mengerti bahwa sejak tadi Kayana menahan perasaannya seorang diri.

“Boleh gak, Kak?” tanya Raechan lagi.

Kayana mengangguk pada akhirnya, membuat Raechan menghapus jarak di antara mereka dan membawa Kayana ke dalam dekapannya.

“Saya disini, Kak Kayana gak sendirian.”

Dalam dekapan Raechan, Kayana merasakan seluruh kenyaman yang bisa diberikan oleh manusia di bumi.

Dome Dream University malam itu tampak meriah dengan hiasan berbagai poster dan pernak-pernik berbau budaya Jepang di setiap sudutnya. Lampu-lampu berwarna temaram juga tampak menghiasi sebuah pohon sakura kecil dalam bentuk imitasi yang sengaja disiapkan oleh panitia Bunkasai tahun ini sebagai spot yang bisa digunakan untuk berfoto. Saat Kayana masuk lebih dalam ke area dome dilihatnya puluhan booth yang besok akan digunakan untuk berjualan makanan khas Jepang.

Raechan berdiri di salah satu booth, terlihat sedang mengerjakan sesuatu seorang diri. Ada yang berubah dari penampilannya, pagi tadi, laki-laki itu hanya mengenakan kaus putih polos yang dibalut kemeja abu-abu muda. Namun saat ini dia mengenakan sebuh kemeja untuk melapisi kausnya.

Kayana melirik jaket berwarna abu-abu muda yang saat ini melekat di tubuhnya. Dia sedikit merasa bersalah karena mungkin Raechan mengenakan kemeja itu untuk mengusir dingin setelah memberikan jaket abu-abu ini padanya sore tadi.

Lalu masih dengan menatap Raechan dari jauh, Kayana melepas jaket itu.

“Kopi lo.” ucap Kayana sembari mengulurkan sekaleng kopi dingin yang tadi dipesan Raechan, “Dan ini jaket lo, lo pake aja.”

Raechan mengambil kedua benda itu dari tangan Kayana. Dia meletakkan kopi kalengannya di saku belakang kemudian kedua tangannya bergerak untuk menyampirkan jaket abu-abu yang baru diterimanya ke bahu Kayana, “Udah saya bilang, angin malem gak baik buat cewek secantik Kak Kayana, pake aja.”

“Tapi, Rae...”

“Saya dari tadi gerak-gerak terus, gerah, jadi gak perlu jaket.” jelas Raechan, “Makasih kopinya, ya.” Dengan sekali gerakan, Raechan mengambil kopi dari sakunya, membuka dan meminumnya.

“Masih banyak ya yang harus dikerjain?”

“Paling abis ini check sound aja, Kak. Kerjaan Kak Kayana udah beres?”

“Udah, tadi abis ketemu Kak Danu juga buat finalisasi.”

“Hmmm,” Raechan mengangguk paham, “Besok....”

“Kayana!” Percakapan mereka terhenti karena sebuah suara yang terdengar dari pintu masuk, seorang laki-laki berperawakan tinggi berlari ke arah Kayana, “Apa kabar?” tanya laki-laki itu setelah sampai di hadapan Kayana.

Kayana tersenyum lembut menyambutnya, “Malam, Kak, saya baik. Kak Rian apa kabar?”

“Baik juga,” Laki-laki itu membalas sama lembutnya, “Wih kayaknya bakal keren banget nih besok acaranya.”

“Mudah-mudahan, Kak.”

Mereka berdua tertawa bersama.

“Denger-denger kemarin lo abis kena ya sama anak tujuh? Kok gak cerita sama gue?” tanya Jerian lagi yang tidak langsung dijawab oleh Kayana.

“Siapa yang marahin lo? Si Dona?” Jerian atau lebih sering disapa dengan Rian itu terkekeh meremehkan, “Masih aja tuh anak sensi sama lo.”

Kayana tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Laki-laki yang saat ini berada di antara dirinya dan Raechan itu adalah seniornya di LPP yang saat ini sudah lulus. Dan mereka memiliki keterikatan karena dulu Jerian sempat menyatakan perasaannya pada Kayana saat baru saja putus dari Dona, senior perempuan yang kemarin sempat menegurnya di ruang pertemuan.

“Kak Rian kok kesininya malem ini? Kenapa gak besok aja?” Dan akhirnya Kayana memilih untuk membahas hal lain saja.

“Besok gue ada kerjaan di luar kota, jadi tadi balik dari kantor gue mampir kesini, itung-itung nemenin yang cowonya begadang. Tuh di depan juga banyak angkatan gue yang dateng.”

“Oh gitu....”

“Saya permisi dulu ya, Kak, masih ada yang harus dikerjain.” potong Raechan cepat, merasa tak nyaman di antara dua orang yang sepertinya sudah lama saling mengenal.


“Kirain kerjaan apaan, ternyata ngerokok.”

Raechan buru-buru menginjak rokoknya yang masih tersisa setengah batang saat Kayana ikut duduk di bangku taman yang berada di depan dome. Dia kikuk, tidak tahu harus merespon apa setelah tertangkap basah seperti ini.

“Tadi itu Kak Jerian, ketua LPP yang tahun lalu lulus, mantannya Kak Dona anak tujuh.”

Raechan masih diam.

“Harusnya lo bawa gue pergi dari sana, bukannya malah pergi sendirian kayak gini.”

“Emang Kak Kayana mau saya ajak pergi dari sana?”

“Ya mau lah.”

Raechan terkekeh pelan, “Tadi itu pasti salah satu cowok yang dulu naksir sama Kak Kayana ya?”

“Dia dulu pernah nembak gue.” jawab Kayana santai.

“Kok masih baik ya? Biasanya kalau ditolak tuh jutek.”

“Mungkin karena gue nolaknya baik-baik.” Raechan bergumam pelan sebagai jawaban, “Lo kalau ditolak cewek bakal jadi jutek emang?”

“Enggak saya mah, tinggal cari gebetan baru aja.” Jawaban Raechan membuat Kayana langsung menolehkan wajahnya untuk menatap Raechan dan dia mendapati laki-laki itu menatapnya dalam, “Tapi itu dulu, sebelum saya ketemu Kak Kayana.”

Dome Dream University malam itu tampak meriah dengan hiasan berbagai poster dan pernak-pernik berbau budaya Jepang di setiap sudutnya. Lampu-lampu berwarna temaram juga tampak menghiasi sebuah pohon sakura kecil dalam bentuk imitasi yang sengaja disiapkan oleh panitia Bunkasai tahun ini sebagai spot yang bisa digunakan untuk berfoto. Saat Kayana masuk lebih dalam ke area dome dilihatnya puluhan booth yang besok akan digunakan untuk berjualan makanan khas Jepang.

Raechan berdiri di salah satu booth, terlihat sedang mengerjakan sesuatu seorang diri. Saat ini Raechan terlihat mengenakan sebuah kemeja yang melapisi kaus berwarna putih yang dia kenakan.

Kayana melirik jaket berwarna abu-abu terang yang saat ini melekat di tubuhnya. Dia sedikit merasa bersalah karena mungkin Raechan mengenakan kemeja itu untuk mengusir dingin setelah memberikan jaket abu-abu ini padanya.

Lalu masih dengan menatap Raechan dari jauh, Kayana melepas jaket itu.

“Kopi lo.” ucap Kayana sembari mengulurkan sekaleng kopi dingin yang tadi dipesan Raechan, “Dan ini jaket lo, lo pake aja.”

Raechan mengambil kedua benda itu dari tangan Kayana. Dia meletakkan kopi kalengannya di saku belakang kemudian kedua tangannya bergerak untuk menyampirkan jaket abu-abu yang baru diterimanya ke bahu Kayana, “Udah saya bilang, angin malem gak baik buat cewek secantik Kak Kayana, pake aja.”

“Tapi, Rae...”

“Saya dari tadi gerak-gerak terus, gerah, jadi gak perlu jaket.” jelas Raechan, “Makasih kopinya, ya.” Dengan sekali gerakan, Raechan mengambil kopi dari sakunya, membuka dan meminumnya.

“Masih banyak ya yang harus dikerjain?”

“Paling abis ini check sound aja, Kak. Kerjaan Kak Kayana udah beres?”

“Udah, tadi abis ketemu Kak Danu juga buat finalisasi.”

“Hmmm,” Raechan mengangguk paham, “Besok....”

“Kayana!” Percakapan mereka terhenti karena sebuah suara yang terdengar dari pintu masuk, seorang laki-laki berperawakan tinggi berlari ke arah Kayana, “Apa kabar?” tanya laki-laki itu setelah sampai di hadapan Kayana.

Kayana tersenyum lembut menyambutnya, “Malam, Kak, saya baik. Kak Rian apa kabar?”

“Baik juga,” Laki-laki itu membalas sama lembutnya, “Wih kayaknya bakal keren banget nih besok acaranya.”

“Mudah-mudahan, Kak.”

Mereka berdua tertawa bersama.

“Denger-denger kemarin lo abis kena ya sama anak tujuh? Kok gak cerita sama gue?” tanya Jerian lagi yang tidak langsung dijawab oleh Kayana.

“Siapa yang marahin lo? Si Dona?” Jerian atau lebih sering disapa dengan Rian itu terkekeh meremehkan, “Masih aja tuh anak sensi sama lo.”

Kayana tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Laki-laki yang saat ini berada di antara dirinya dan Raechan itu adalah seniornya di LPP yang saat ini sudah lulus. Dan mereka memiliki keterikatan karena dulu Jerian sempat menyatakan perasaannya pada Kayana saat baru saja putus dari Dona, senior perempuan yang kemarin sempat menegurnya di ruang pertemuan.

“Kak Rian kok kesininya malem ini? Kenapa gak besok aja?” Dan akhirnya Kayana memilih untuk membahas hal lain saja.

“Besok gue ada kerjaan di luar kota, jadi tadi balik dari kantor gue mampir kesini, itung-itung nemenin yang cowonya begadang. Tuh di depan juga banyak angkatan gue yang dateng.”

“Oh gitu....”

“Saya permisi dulu ya, Kak, masih ada yang harus dikerjain.” potong Raechan cepat, merasa tak nyaman di antara dua orang yang sepertinya sudah lama saling mengenal.


“Kirain kerjaan apaan, ternyata ngerokok.”

Raechan buru-buru menginjak rokoknya yang masih tersisa setengah batang saat Kayana ikut duduk di bangku taman yang berada di depan dome. Dia kikuk, tidak tahu harus merespon apa setelah tertangkap basah seperti ini.

“Tadi itu Kak Jerian, ketua LPP yang tahun lalu lulus, mantannya Kak Dona anak tujuh.”

Raechan masih diam.

“Harusnya lo bawa gue pergi dari sana, bukannya malah pergi sendirian kayak gini.”

“Emang Kak Kayana mau saya ajak pergi dari sana?”

“Ya mau lah.”

Raechan terkekeh pelan, “Tadi itu pasti salah satu cowok yang dulu naksir sama Kak Kayana ya?”

“Dia dulu pernah nembak gue.” jawab Kayana santai.

“Kok masih baik ya? Biasanya kalau ditolak tuh jutek.”

“Mungkin karena gue nolaknya baik-baik.” Raechan bergumam pelan sebagai jawaban, “Lo kalau ditolak cewek bakal jadi jutek emang?”

“Enggak saya mah, tinggal cari gebetan baru aja.” Jawaban Raechan membuat Kayana langsung menolehkan wajahnya untuk menatap Raechan dan dia mendapati laki-laki itu menatapnya dalam, “Tapi itu dulu, sebelum saya ketemu Kak Kayana.”

“Jadi beneran gak ada yang mau ngomong nih?”

Dari tempatnya duduk, Kayana memejamkan matanya rapat-rapat. Kedua tangannya juga saling bertaut. Di depan sana, didengarnya sekali lagi ada seseorang yang menggebrak meja dengan begitu kuat.

“KALAU GAK ADA YANG NGOMONG, BENERAN GAK SAYA PULANGIN NIH YA.”

Meskipun dalam keadaan menunduk Kayana bisa tahu bahwa yang beteriak barusan adalah Dona— Wakil Ketua Lembaga Pusat Perbantuan tahun ini. Teriakan lain menyusul setelahnya, kali ini Kayana yakini sebagai suara Baim, sang ketua, “PADA GAK PUNYA MULUT APA GIMANA?”

Seisi ruangan kembali hening setelah teriakan Baim, belum ada satupun di antara anggota LPP angkatan semester tiga dan semester lima yang berani membuka mulut mereka. Sebetulnya mereka bukan takut, hanya saja mereka benar-benar tidak tahu-menahu perihal masalah yang sejak tadi senior mereka bahas. Mereka berpikir bahwa membuka mulut dalam keadaan tidak tahu apa-apa seperti ini hanya akan memperkeruh masalah, namun ternyata, mereka tetap salah bahkan ketika mereka tetap menutup mereka.

“Gue tanya sekali lagi ya, siapa yang berani-beraninya ngeduluin anak fakultas bahasa jepang buat ngehubungin juri? Kalian paham job masing-masing gak sih? Dari awal udah jelas kan, nama organisasi kita itu Lembaga Pusat Perbantuan yang tugasnya sebagai support team aja buat fakultas yang lagi ngadain event, jadi gak semua tugas mereka jadi tugas kalian juga.”

Tetap hening, tidak ada satupun yang berani angkat bicara.

“Danu, ketua Bunkasai tahun ini bisa jelasin?”

Yang disebut namanya langsung berdiri dan menatap ke arah beberapa senior yang juga menatapnya, “Maaf, Kak, bukan bermaksud melempar tugas, tapi kemarin saya dan Kayana sudah bagi tugas. Dan tugas untuk mengurus juri ada di job dia, Kak.”

“Kayana, bener yang dibilang Danu?”

Jantung Kayana bergedub lebih cepat dari sebelumnya, perlahan dia berdiri dan menatap ke depan, “Bener, Kak.”

“Oke, jelasin kalau gitu kenapa bisa sampe anak Jepang setersinggung itu.”

“Terakhir kali saya ngobrol sama Ayunara anak semester satu soal juri, kita masih nunggu daftar juri dari mereka, Kak. Jadi kita gak ada ngehubungin juri sama sekali.” Kayana melirik ke tempat Iren duduk, dan temannya itu mengerti sinyal dari Kayana, “Kemarin saya stay di ruangan sampe sore, Kak, untuk menggantikan Kayana yang ada urusan sedikit di luar kampus, tapi gak ada juga yang ngomong ke saya soal juri.”

“Wah kemana tuh masih jam kampus malah ngelayap?” sindir seorang senior perempuan,

“Saya.....”

“Oke udah jelas ya sekarang MASALAHNYA ADA DI SIAPA.” Dona berkata sambil menekankan beberapa katanya.

“Saya keluar ruangan saat jam makan siang kok, Kak. Dan saya juga udah bilang kalau butuh apa-apa bisa hubungin saya lewat telfon.”

Argue kamu?” Dona bergerak mendekati Kayana namun dihalangin oleh Baim, “Udah, Don, biar mereka beresin sendiri.” Baim menarik Dona pergi ke luar ruangan dan diikuti senior LPP yang lainnya.

Suasana di ruangan langsung senyap saat seluruh senior mereka keluar ruangan.

“Gue beneran gak tau kalau ada yang ngehubungin juri tanpa koordinasi sama anak jepang. Maaf, Kak Danu.” Kayana langsung mendekat pada Danu untuk meluruskan masalah, “Gak papa, Kay, kemarin kan juga gue izinin lo pergi. Ini kita kecolongan aja.”


Sekembalinya dari briefing dengan angkatan atas, Raechan merasakan aura yang berbeda dari para seniornya. Beberapa dari mereka terduduk di kursi dengan kepala menunduk dan sebagainnya lagi kembali fokus pada pekerjaan mereka meskipun terlihat sekali mereka sedang memikirkan sesuatu. Raechan tidak mengerti apa yang terjadi tapi sesuai yang diperkirannya, pasti para seniornya itu mendapat sedikit atau bahkan banyak gertakan dari atas.

“Bang, rokok?” tawar Raechan pada Danu yang sedang mengotak-atik layar laptop di depannya.

“Wih, thankyou. Tau aja lo gue butuh rokok.”

“Ada apaan, Bang? Kok kayaknya pada lemes amat.”

“Ada masalah kecil, ntar aja dibahas. Angkatan gue kayaknya lagi pada berusaha fokus lagi tuh buat hari H.” Danu menayalakan rokoknya dengan korek yang juga dipinjamkan oleh Raechan.

“Kak Kayana keliatan paling lemes.” Raechan berbisik lirih, menatap ke arah Kayana yang saat ini sudah menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan.

Bisikan Raechan sampai pada telinga Danu meskipun hanya sepelan hembusan angin, “Gebetan lo yang kena tadi, jadi wajar aja dia begitu. Kayana tuh mentalnya bagus sebenernya, cuma ya karena dia masih semester tiga dan yang marahin anak tujuh ya kaget lah dikit-dikit.” katanya menjelaskan.

“Emang Kak Kayana salah apa, Bang?”

“Salah paham doang, udah lo fokus aja buat hari H.”

Raechan diam, segan untuk bertanya lebih jauh. Seniornya yang saat ini berada di semester lima itu kembali fokus pada layar laptopnya sambil sesekali menghisap rokok dan menghembuskan asapnya ke udara.

Perhatian Raechan kembali kepada Kayana, dia berperang dengan dirinya sendiri haruskah dia mendekati Kayana dan menenangkannya atau lebih baik untuk memberinya waktu sendiri dulu.

Akhirnya Raechan memutuskan bahwa opsi kedua terdengar lebih baik, karena Raechan selalu percaya bahwa terkadang seseorang yang sedang terpuruk hanya butuh ruang untuk dirinya sendiri, menenangkan dirinya sendiri dan berdamai dengan dirinya sendiri. Dan Raechan akan memberikan ruang itu pada Kayana, seluas-luasnya.

Baru nanti, Raechan akan bergerak, saat Kayana sudah membuka ruangnya untuk dimasuki orang lain.

Tidak seperti biasanya, siang ini Raechan memiliki waktu untuk makan siang dengan Jevan dan Juan di kantin fakultas. Meskipun Raechan sudah mewanti-wanti kedua sahabatnya itu untuk tidak menyita waktunya setelah jam makan siang. Jevan hanya memutar bola matanya malas mendengar ocehan sahabat lelakinya yang belakangan sangat sibuk itu. Dia memilih untuk mengalihkan tatapannya ke arah lain dan tatapannya jatuh pada seseorang yang sedang berjalan ke arah mereka,

“Eh, Rae, Kak Kayana jalan ke arah kita, Rae.”

Raechan diam, mengabaikan perkataan Jevan. Dia masih fokus pada semangkuk mie ayam katsu yang berada di depannya.

“Rae, bangsat ni anak. Makan mulu lo!.”

“Rae, gue gak bercanda. Heh! Itu Kak Kayana bego! Lap mulut lo itu lo belepotan.”

Raechan tidak bergeming, masih dengan kedua tangannya yang sibuk dengan sumpit dia hanya bergumam, “Halah, gak usah ngibul lo. Gue gak akan ketipu. Mana mungkin Kak Kayana nyamperin kita, dia lagi sibuk di sekretariat lagi.”

Jevan semakin kesal dibuatnya hingga dia mendekat pada Raechan dan berbisik. Suaranya dia buat sepelan mungkin tapi penuh penekanan, “Gue gak bohong, njing. Itu cewek kesayangan lo beneran kesini.”

Raechan menggeleng mengejek, suara tawa Juan semakin membuat dia yakin bahwa Jevan berbohong.

“Ah bodo amat, dah. Gue pacarin juga nih Kak Kayananya.” bisik Jevan menyerah sambil melirik Kayana yang sekarang sudah berjarak beberapa meter saja dari mereka.

Raechan masih saja mengganggap semua ucapan Jevan hanyalah kebohongan semata hingga akhirnya sebuah suara lembut yang memanggil namanya dan membuat Raechan meletakkan sumpitnya dengan tergesa.

Juan dan Jevan menahan tawa mereka mati-matian, sedangkan Raechan langsung meraih tisu untuk mengusap area bibirnya.

“Eheheheh, Kak Kayana kok disini?”

“Ini.... tadi sebelum ke kampus gue mampir ke toko mainan buat beli ini.” Kayana meletakkan sebuah kotak besar ke atas meja, “Gue beli ini buat Selo, kata lo kan dia suka main lego. Tolong kasihin buat dia, ya, Rae?”

Jevan dan Juan saling lempar padang.

“Ah..... Selo....” Raechan menyeringai, tidak lagi merasa gugup akan kedatangan Kayana yang begitu tiba-tiba, “Kayaknya Selo bakal lebih seneng kalau Kak Kayana yang kasih mainannya langsung deh.”

“Gue....”

“Kak Kayana punya waktu berapa lama istirahatnya?” potong Raechan cepat.

“Gue... udah free sih, cuma harus nunggu laporan anak-anak divisi aja sih.”

“Yaudah kalau gitu mending Kak Kayana ikut saya pulang,” Raechan melirik jam tangannya sebentar sebelum kembali menatap Kayana, “Yuk, Kak?”

“Hmm tapi Rae....”

“Udah jangan banyak mikir, ayo buruan, nanti keburu Selo tidur siang.” Raechan berucap tidak sabar, dia langsung menggendong tas hitamnya di punggung dan mengangkat kotak lego dengan satu tangan. Sementara satu tangannya yang lain meraih lengan Kayana.

“Eh... Rae... tas gue masih di ruang LPP. Lo tunggu sini aja, biar gue ambil dulu bentar, sekalian izin sama Kak Danu.”

“Oh... Oke. Jangan lama-lama, ya!”

Sepeninggalnya Kayana, Juan dan Jevan langsung ikut berdiri dan menghampiri Raechan,

“Eh, Rae, kalau lo bawa Kak Kayana ke rumah artinya ntar ketemu Mama lo dong?”

“Keren, kan? Sekali mendayung dua pulau terlampaui.” ucap Raechan sambil tersenyum puas.

“Wah, makasih lo sama Selo harusnya!” cerocos Juan tidak terima karena anak selucu Selo kembali dimanfaatkan oleh kakak kandungnya untuk mendapatkan hati wanita yang dia cintai.

“Iya pasti ntar gue makasih ke dia!”

Juan tidak lagi menjawab, dia sudah kehabisan kata-kata. Terlalu takjub.

Sekarang Juan benar-benar yakin bahwa sahabatnya itu benar-benar seorang penakluk wanita. Seorang wanita yang dipuja-puja seperti Kak Kayana, yang dulu menolak sahabatnya mentah-mentah itupun sudah mulai luluh.


“Ini rumah saya, Selo ada di dalem.” ucap Raechan seraya membimbing Kayana melewati taman kecil sebelum sampai pada pintu utama istana milik keluarganya itu.

“MAAAAA.... RAECHAN PULANGGG....” Suara teriakan Raechan menggema, membuat seorang wanita cantik dengan gaun rumahan berwarna biru muda turun dari lantai dua, “Loh, Rae, bolos lagi kamu? Kok jam segini udah pulang?”

“Enggak, aku ada istirahat sebentar dari kegiatan LPP. Ntar balik lagi. Eh iya, Selo mana, Ma? Ada yang mau ketemu nih.”

“Siapa? Kok tumben ada yang.... Loh, halo, ini siapa?” Mama Raechan berjalan mendekat dengan senyum ketika mendapati anak sulungnya tidak datang sendirian, “Cantik sekali, ini siapa? Kok Tante baru liat?”

“Saya Kayana, Tante. Senior Raechan di kampus.” jawab Kayana, disentuhnya tangan Mama Raechan untuk kemudian dia cium dengan sopan.

“Oh ya ampun, ayo duduk, Nak, silahkan-silahkan.”

Masih dengan senyum marah, Mama Raechan segera mengambil beberapa camilan untuk dihindangkan di ruang tamu. Dia juga terlihat heboh memanggil Selo, anak bungsunya, yang tengah asik bermain di kamarnya.

“Kak Ayaaaaa!!!!”

Pria kecil itu tidak kalah heboh, dengan kaki-kaki kecilnya, Selo berlari menghampiri Kayana yang sudah duduk di sofa.

“Kak Ayaa...” panggil Selo lagi dengan mata berbinar-binar.

“Halooo, Sayang. Ih gantengnyaaa.... Eh Kak Aya bawa kado loh buat kamu, nih..” Kayana menunjukan kotak lego berukuran sebesar tubuh Selo yang langsung disambut Selo dengan senyum sumringah.

“Mainannya besar...” Selo menatap Kayana dan mainan barunya bergantian, “Makasih, Kak Aya.”

“Sama-sama, Sayang.”

“Saya ke atas dulu ya, Kak, ganti baju. Ngobrol dulu aja sama Mama.”

Raechan sudah lebih dulu menaiki tangga rumahnya sebelum sempat Kayana mengiyakan atau menolak perkataannya itu. Sekarang, di ruang tamu milik keluarga Raechan itu hanya ada Kayana, Mama Raechan dan tentunya Selo yang sedang asik dengan dunianya sendiri.

“Kayana kuliah di jurusan apa?”

“Pemasaran, Tante.”

“Wahh, keren, dulu Raechan juga disuruh Papanya masuk pemasaran tapi dianya gak mau.” Mama Raechan menggeser duduknya untuk semakin dekat pada Kayana, “Kamu pacarnya Raechan, ya?” bisik Mama Raechan yang langsung membuat Kayana salah tingkah.

“Oh? Hm.. bu... bukan kok, Tante. Saya cuma seniornya Raechan di kampus.”

“Oh, hehe, Tante kira pacarnya. Soalnya baru kali ini Raechan bawa temen perempuan ke rumah selain sahabatnya si Ica sama Elen.”

Kayana hanya tertawa canggung. Wanita paruh baya yang ada di hadapannya benar-benar perwujudan dari Raechan versi perempuan. Tawanya, caranya berbicara, bahkan caranya merayu mirip sekali dengan Raechan. Tanpa tes DNA-pun rasanya sudah dapat dipastikan bahwa beliau adalah mama kandung Raechan.

“Kayana gak buru-buru, kan? Makan siang dulu ya disini? Nanti biar Tante suruh Raechan masak.”

“Raechan.. bisa masak, Tante?”

“Bisa, lebih jago dari Tante malah. Kamu harus cobain, pasti bakal suka.”

“Oh... Boleh, Tante, terimakasih.”

“Belum makan kok udah makasih,” Suara Raechan terdengar lagi saat dia turun dari tangga.

“Ya sudah, Kayana temenin Raechan masak, ya? Tante ke atas dulu nemenin Selo main.”

Mama Raechan meningglkan Kayana yang kini melangkahkan kakinya mengikuti Raechan untuk masuk ke dapur, “Lo gak pernah bawa pacar lo ke rumah, Rae?”

Raechan memandang Kayana sebentar sebelum akhirnya dia terkekeh sembari membuka lemari pendingin, “Gak pernah, Kak. Mungkin bakal kedengeran basi sih, tapi saya emang baru kali ini bawa perempuan ke rumah, selain Ica sama Elen.”

Ah, sesuai sama yang mamanya bilang ya, batin Kayana.

“Kenapa?”

“Karena saya gak pernah serius sama mereka, jadi untuk apa juga di bawa ke rumah.” jawab Raechan enteng tanpa menatap Kayana sama sekali karena kali ini dia sudah sibuk memotong-motong bahan makanan.

“Kenapa lo gak pernah serius sama mereka, Rae? Lo juga bakal gitu ke gue?”

Pertanyaan Kayana membuat Raechan menghentikan kegiatan memotongnya, dia membalikkan badan untuk menatap Kayana yang duduk di meja bar kecil yang berada di pinggir dapur.

“Saya selalu ngerasa diri saya kayak kapal pesiar, Kak. Berlayar kemana aja yang saya mau dan kadang-kadang juga berhenti di dermaga yang saya mau. Kalau saya ngerasa gak nyaman di dermaga itu, saya bakal pergi ke dermaga lain, terus begitu... Sampai akhirnya saya bakal nemuin dermaga terakhir saya, tempat saya akan bersandar selamanya.”

“Lo mengibaratkan kisah cinta lo kayak gitu?”

Raechan mengangguk pelan, “Ya... seperti itu. Kedengeran bajingan, ya?” Laki-laki itu berjalan pelan ke meja bar dan menumpukan kedua tangannya di meja lalu memajukan tubuhnya ke arah Kayana, “Tapi seenggaknya, saya gak pernah berhenti di dua dermaga sekaligus. Ketika akan pergi ke dermaga lain, saya sudah pasti meninggalkan dermaga yang sebelumnya.”

Kayana diam.

“Dan Kak Kayana gak perlu khawatir, Kak Kayana adalah dermaga terakhir yang saya maksud.” Raechan tersenyum lembut pada Kayana seraya sebelah tangannya terangkat untuk mengelus rambut gadisnya itu dengan sangat pelan, “Saya tinggal masak dulu ya sebentar. Abis itu kita makan dan balik lagi ke kampus.”

Kayana masih diam.

Terus diam.

Sambil memandangi Raechan.

Tidak seperti biasanya, siang ini Raechan memiliki waktu untuk makan siang dengan Jevan dan Juan di kantin fakultas. Meskipun Raechan sudah mewanti-wanti kedua sahabatnya itu untuk tidak menyita waktunya setelah jam makan siang. Jevan hanya memutar bola matanya malas mendengar ocehan sahabat lelakinya yang belakangan sangat sibuk itu. Dia memilih untuk mengalihkan tatapannya ke arah lain dan tatapannya jatuh pada seseorang yang sedang berjalan ke arah mereka,

“Eh, Rae, Kak Kayana jalan ke arah kita, Rae.”

Raechan diam, mengabaikan perkataan Jevan. Dia masih fokus pada semangkuk mie ayam katsu yang berada di depannya.

“Rae, bangsat ni anak. Makan mulu lo!.”

“Rae, gue gak bercanda. Heh! Itu Kak Kayana bego! Lap mulut lo itu lo belepotan.”

Raechan tidak bergeming, masih dengan kedua tangannya yang sibuk dengan sumpit dia hanya bergumam, “Halah, gak usah ngibul lo. Gue gak akan ketipu. Mana mungkin Kak Kayana nyamperin kita, dia lagi sibuk di sekretariat lagi.”

Jevan semakin kesal dibuatnya hingga dia mendekat pada Raechan dan berbisik. Suaranya dia buat sepelan mungkin tapi penuh penekanan, “Gue gak bohong, njing. Itu cewek kesayangan lo beneran kesini.”

Raechan menggeleng mengejek, suara tawa Juan semakin membuat dia yakin bahwa Jevan berbohong.

“Ah bodo amat, dah. Gue pacarin juga nih Kak Kayananya.” bisik Jevan menyerah sambil melirik Kayana yang sekarang sudah berjarak beberapa meter saja dari mereka.

Raechan masih saja mengganggap semua ucapan Jevan hanyalah kebohongan semata hingga akhirnya sebuah suara lembut yang memanggil namanya membuatnya meletakkan sumpitnya dengan tergesa.

Juan dan Jevan menahan tawa mereka mati-matian, sedangkan Raechan langsung meraih tisu untuk mengusap wajahnya.

“Eheheheh, Kak Kayana kok disini?”

“Ini.... tadi sebelum ke kampus gue mampir ke toko mainan buat beli ini.” Kayana meletakkan sebuah kotak besar ke atas meja, “Gue beli ini buat Selo, kata lo kan dia suka main lego. Tolong kasihin buat dia, ya, Rae?”

Jevan dan Juan saling lempar padang.

“Ah..... Selo....” Raechan menyeringai, tidak lagi merasa gugup akan kedatangan Kayana yang begitu tiba-tiba, “Kayaknya Selo bakal lebih seneng kalau Kak Kayana yang kasih mainannya langsung deh.”

“Gue....”

“Kak Kayana punya waktu berapa lama istirahatnya?” potong Raechan cepat.

“Gue... cuma harus nunggu laporan anak-anak divisi aja sih.”

“Yaudah kalau gitu mending Kak Kayana ikut saya pulang,” Raechan melirik jam tangannya sebentar sebelum kembali menatap Kayana, “Yuk, Kak?”

“Hmm tapi Rae....”

“Udah jangan banyak mikir, ayo buruan, nanti keburu Selo tidur siang.” Raechan berucap tidak sabar, dia langsung menggendong tas hitamnya di punggung dan mengangkat kotak lego dengan satu tangan. Sementara satu tangannya yang lain meraih lengan Kayana.

“Eh... Rae... tas gue masih di ruang LPP. Lo tunggu sini aja, biar gue ambil dulu bentar, sekalian izin sama Kak Danu.”

“Oh... Oke. Jangan lama-lama, ya!”

Sepeninggalnya Kayana, Juan dan Jevan langsung ikut berdiri dan menghampiri Raechan,

“Eh, Rae, kalau lo bawa Kak Kayana ke rumah artinya ntar ketemu Mama lo dong?”

“Keren, kan? Sekali mendayung dua pulau terlampaui.” ucap Raechan sambil tersenyum puas.

“Wah, makasih lo sama Selo harusnya!” cerocos Juan tidak terima karena anak selucu Selo kembali dimanfaatkan oleh kakak kandungnya untuk mendapatkan hati wanita yang dia cintai.

“Iya pasti ntar gue makasih ke dia!”

Juan tidak lagi menjawab, dia sudah kehabisan kata-kata. Terlalu takjub.

Sekarang Juan benar-benar yakin bahwa sahabatnya itu benar-benar seorang penakluk wanita. Seorang wanita yang dipuja-puja seperti Kak Kayana, yang dulu menolak sahabatnya mentah-mentah itupun sudah mulai luluh.


“Ini rumah saya, Selo ada di dalem.” ucap Raechan seraya membimbing Kayana melewati taman kecil sebelum sampai pada pintu utama istana milik keluarganya itu.

“MAAAAA.... RAECHAN PULANGGG....” Suara teriakan Raechan menggema, membuat seorang wanita cantik dengan gaun rumahan berwarna biru muda turun dari lantai dua, “Loh, Rae, bolos lagi kamu? Kok jam segini udah pulang?”

“Enggak, aku ada istirahat sebentar dari kegiatan LPP. Ntar balik lagi. Eh iya, Selo mana, Ma? Ada yang mau ketemu nih.”

“Siapa? Kok tumben ada yang.... Loh, halo, ini siapa?” Mama Raechan berjalan mendekat dengan senyum ketika mendapati anak sulungnya tidak datang sendirian, “Cantik sekali, ini siapa? Kok Tante baru liat?”

“Saya Kayana, Tante. Senior Raechan di kampus.” jawab Kayana, disentuhnya tangan Mama Raechan untuk kemudian dia cium dengan sopan.

“Oh ya ampun, ayo duduk, Nak, silahkan-silahkan.”

Masih dengan senyum marah, Mama Raechan segera mengambil beberapa camilan untuk dihindangkan di ruang tamu. Dia juga terlihat heboh memanggil Selo, anak bungsunya, yang tengah asik bermain di kamarnya.

“Kak Ayaaaaa!!!!”

Pria kecil itu tidak kalah heboh, dengan kaki-kaki kecilnya, Selo berlari menghampiri Kayana yang sudah duduk di sofa.

“Kak Ayaa...” panggil Selo lagi dengan mata berbinar-binar.

“Halooo, Sayang. Ih gantengnyaaa.... Eh Kak Aya bawa kado loh buat kamu, nih..” Kayana menunjukan kotak lego berukuran sebesar tubuh Selo yang langsung disambut Selo dengan senyum sumringah.

“Mainannya besar...” Selo menatap Kayana dan mainan barunya bergantian, “Makasih, Kak Aya.”

“Sama-sama, Sayang.”

“Saya ke atas dulu ya, Kak, ganti baju. Ngobrol dulu aja sama Mama.”

Raechan sudah lebih dulu menaiki tangga rumahnya sebelum sempat Kayana mengiyakan atau menolak perkataannya itu. Sekarang, di ruang tamu milik keluarga Raechan itu hanya ada Kayana, Mama Raechan dan tentunya Selo yang sedang asik dengan dunianya sendiri.

“Kayana kuliah di jurusan apa?”

“Pemasaran, Tante.”

“Wahh, keren, dulu Raechan juga disuruh Papanya masuk pemasaran tapi dianya gak mau.” Mama Raechan menggeser duduknya untuk semakin dekat pada Kayana, “Kamu pacarnya Raechan, ya?” bisik Mama Raechan yang langsung membuat Kayana salah tingkah.

“Oh? Hm.. bu... bukan kok, Tante. Saya cuma seniornya Raechan di kampus.”

“Oh, hehe, Tante kira pacarnya. Soalnya baru kali ini Raechan bawa temen perempuan ke rumah selain sahabatnya si Ica sama Elen.”

Kayana hanya tertawa canggung. Wanita paruh baya yang ada di hadapannya benar-benar perwujudan dari Raechan versi perempuan. Tawanya, caranya berbicara, bahkan caranya merayu mirip sekali dengan Raechan. Tanpa tes DNA-pun rasanya sudah dapat dipastikan bahwa beliau adalah mama kandung Raechan.

“Kayana gak buru-buru, kan? Makan siang dulu ya disini? Nanti biar Tante suruh Raechan masak.”

“Raechan.. bisa masak, Tante?”

“Bisa, lebih jago dari Tante malah. Kamu harus cobain, pasti bakal suka.”

“Oh... Boleh, Tante, terimakasih.”

“Belum makan kok udah makasih,” Suara Raechan terdengar lagi saat dia turun dari tangga.

“Ya sudah, Kayana temenin Raechan masak, ya? Tante ke atas dulu nemenin Selo main.”

Mama Raechan meningglkan Kayana yang kini melangkahkan kakinya mengikuti Raechan untuk masuk ke dapur, “Lo gak pernah bawa pacar lo ke rumah, Rae?”

Raechan memandang Kayana sebentar sebelum akhirnya dia terkekeh sembari membuka lemari pendingin, “Gak pernah, Kak. Mungkin bakal kedengeran basi sih, tapi saya emang baru kali ini bawa perempuan ke rumah, selain Ica sama Elen.”

Ah, sesuai sama yang mamanya bilang ya, batin Kayana.

“Kenapa?”

“Karena saya gak pernah serius sama mereka.” jawab Raechan enteng tanpa menatap Kayana sama sekali karena kali ini dia sudah sibuk memotong-motong bahan makanan.

“Kenapa lo gak pernah serius sama mereka, Rae? Lo juga bakal gitu ke gue?”

Pertanyaan Kayana membuat Raechan menghentikan kegiatan memotongnya, dia membalikkan badan untuk menatap Kayana yang duduk di meja bar kecil yang berada di pinggir dapur.

“Saya selalu ngerasa diri saya kayak kapal pesiar, Kak. Berlayar kemana aja yang saya mau dan kadang-kadang juga berhenti di dermaga yang saya mau. Kalau saya ngerasa gak nyaman di dermaga itu, saya bakal pergi ke dermaga lain, terus begitu... Sampai akhirnya saya bakal nemuin dermaga terakhir saya, tempat saya akan bersandar selamanya.”

“Lo mengibaratkan kisah cinta lo kayak gitu?”

Raechan mengangguk pelan, “Ya... seperti itu. Kedengeran bajingan, ya?” Laki-laki itu berjalan pelan ke meja bar dan menumpukan kedua tangannya di meja lalu memajukan tubuhnya ke arah Kayana, “Tapi seenggaknya, saya gak pernah berhenti di dua dermaga sekaligus. Ketika akan pergi ke dermaga lain, saya sudah pasti meninggalkan dermaga yang sebelumnya.”

Kayana diam.

“Dan Kak Kayana gak perlu khawatir, Kak Kayana adalah dermaga terakhir yang saya maksudkan.” Raechan tersenyum lembut pada Kayana seraya sebelah tangannya terangkat untuk mengelus rambut gadisnya itu dengan sangat pelan, “Saya tinggal masak dulu ya sebentar. Abis itu kita makan dan balik lagi ke kampus.”

Mereka berdua adalah yang pertama datang. Raechan mempersilahkan Kayana untuk duduk di sofa sementara dia berjalan ke arah lemari pendingin untuk mengambil dua botol air mineral.

“Minum dulu, Kak. Kayaknya mereka bakal telat, soalnya jemput si Juan dulu tuh. Kosannya di deket kampus, jadi pasti macet.”

“Ini... kita gak papa disini duluan sebelum Jevan?”

Raechan terkekeh pelan mendengar pertanyaan gadis yang begitu dia sukai itu.

“Gak papa lah, Kak. Studio ini mah udah kayak tempat umum. Siapa aja bisa masuk.”

Kayana mengangguk mengerti dan matanya kembali menatap ruangan dibalik pintu kaca, “Lo sama sahabat-sahabat lo suka ngeband, Rae?”

“Kadang,” Raechan meneguk minumannya sebelum melanjutkan, “Sebenenrnya Jevan yang cinta banget sama musik, saya sama lainnya cuma support aja.”

Tatapan Kayana teralih pada pria di sampingnya, merasakan kehangatan sekali lagi pada hatinya tiap kali mendengar Raechan berbicara tentang sahabatnya. Persahabatan Raechan bersama teman-temannya sudah terasa begitu hangat bahkan sebelum mereka semua berkumpul disini.

“Oh, iya, Kak, saya lupa tanya. Kak Kayana terganggu gak kalau ada yang minum-minum?”

“Enggak, kenapa?”

“Jevan, Juan, Kak Kiyo, sama saya juga sih, kadang-kadang minum-minum kalau lagi nongkrong. Takutnya nanti bikin Kak Kayana gak nyaman.”

“Oh.. santai aja. Biasa juga di LPP anak-anak pada minum kan kalau lagi after party.”

“Yaudah, tapi kalau nanti Kak Kayana ngerasa gak nyaman ada di sini, colek aja pinggang saya, ya? Nanti saya bakal bawa Kak Kayana pulang.”

Setelah menghabiskan waktu beberapa kali dengan Raechan, Kayana mulai mengetahui sedikit lebih banyak tentang juniornya itu.

Ternyata Raechan tidak selalu bersikap menyebalkan.

Ternyata Raechan adalah sosok kakak yang baik dan begitu manis di depan adiknya.

Ternyata Raechan adalah orang yang menyenangkan hingga memiliki banyak sahabat.

Ternyata Raechan tidak seperti yang dia dengar dari orang-orang.

Selama ini, selain karena malas meladeni tingkah iseng Raechan padanya, sebenarnya Kayana juga memiliki alasan lain kenapa dia selalu berusaha menjauhi Raechan. Sebetulnya Kayana sudah mendengar dari Iren mengenai sepak terjang Raechan yang baru beberapa bulan menjadi mahasiswa itu.

Didengarnya bahwa hubungan Raechan dan wanita-wanita yang pernah menjadi pacarnya selalu tak lebih dari satu minggu.

Didengarnya bahwa banyak sekali yang menginginkan Raechan mulai dari junior hingga senior.

Didengarnya bahwa bahwa Raechan selalu meladeni wanita yang datang untuk mengetuk hatinya.

Semua hal yang dia dengar itu semakin membuatnya ingin berlari jauh dari Raechan. Kayana merasa bahwa meladeni Raechan hanya akan membuang waktunya dengan sia-sia.

Tapi ternyata, perlahan-lahan, dia mulai mengenal Raechan. Dan langkah yang dia ambil untuk menjauh itu perlahan-lahan berhenti. Kayana tidak lagi berlari menjauh.

“Eh kayaknya mereka dateng tuh.” Raechan bangkit dari duduknya dan membuka pintu, “Weh lama banget sih, pada kemana dulu?”

“Beli pesenan lo, Anjing. Kata lo suruh bawa pizza sama ayam goreng. Ngomel mulu gue sambit pala lo lama-lama.” sahutan kesal terdengar bahkan sampai ke tempat Kayana duduk.

“Hehehe, ya maap.” Raechan nyengir, “Masuk deh sini, ada cewek cakep udah nungguin nih. Tapi walaupun udah nunggu kalian lama, kecantikannya gak luntur kok.”

Jevan terkekeh pelan sambil meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja, “Malu-maluin ya, Kak? Saya ngerti sih kalau Kak Kayana akhirnya nolak dia. Kelakuannya aja begini.”

“Kita aja kadang malu, Kak, sama kelakuannya.” sambung Jelena.

Wajah Raechan berubah kecut, diliriknya manusia yang membuat imagenya buruk, “Kalau lo lagi deketin cewek gak pernah ya gue jelek-jelekin lo begini.”

“Gak pernah apanya, anjing! Lo pernah ya bilang ke kating yang lagi gue deketin kalau gue suka gigitin stick drum!”

“Wah iya bener, dulu pas gue deketin Ica juga dia sempet ilfeel sama gue karena lo bilang ke dia kalau gue mabuk suka kencing di celana! Bajingan emang!”

Tanpa sadar, Kayana terkekeh, lama sekali. Hingga dia memukul-mukul sandaran sofa.

“Ya kan itu emang kenyataan!” bela Raechan.

“Kagak, njir, mana pernah gue gigit stick drum! Jempol kaki lo sini gue gigit!” geram Jevan, dia sampai membanting satu batang rokok yang baru dia keluarkan dari kotaknya, “Kalau lo bilang gue sering matahin stick drum masih terima tuh gue! Lah ini gigit coba! Ngapain banget gue gigit-gigit stick drum.”

“Ya siapa tau kan gigi lo baru tumbuh. Dulu pas gigi Selo baru tumbuh dia suka tuh gigitin mainannya.”

“GUE UMUR 20 TAHUN KALAU LO LUPA! GIGI TARING KALI BARU TUMBUH UMUR SEGITU!”

Menyenangkan.

Menyenangkan sekali berada di sini.

Kayana menyeka sedikit air mata yang berada di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.

“Kak, tisu.”

Kayana menatap tangan yang mengulurkan tisu padanya. Tangan itu milik Klarisa yang sedang tersenyum manis padanya.

You look pretty when you laugh, Kak.” tambah Klarisa.

“Makasih, Ca.” Kayana menerima tisu itu dengan senyum sama manisnya.

Di sampingnya, Raechan masih melanjutkan adu mulutnya dengan Jevan dan Jaenandra. Sekarang, Juan dan Markio juga ikut bergabung dengan mereka. Kayana menikmati pemandangan itu. Ditatapnya satu persatu sahabat Raechan. Mereka semua tampak begitu dekat, tapi meskipun begitu, mereka tetap memberi ruang untuk Kayana. Mereka tidak menikmati dunia mereka sendiri, mereka membawa Kayana masuk untuk bersenang-senang dengan mereka.

Untuk pertama kali, Kayana merasakan kehangatan berada di tengah-tengah orang banyak seperti ini. Dia merasa diterima. Dia merasa dihargai. Dia merasa dirangkul.

Dan Kayana senang berada disini.

“Main bentar lah yuk, itung-itung welcoming party yang resmi buat Kak Kayana join jadi geng studio ini,” Juan mendahului, “Kak, tonton ya dari sini.” Juan mengerling nakal pada Kayana sebelum masuk ke ruangan yang berisi perlatan band. Yang lainnya mengikuti Juan untuk masuk ke sana.

“Liatnya ke saya aja, jangan ke yang lain, ya? Oke ya!” Raechan berbisik pelan, lalu dia juga ikut bangkit dari kursinya dan masuk ke sana.

Mereka tampak berdiskusi sebelum akhirnya siap di posisi masing-masing. Anehnya, hanya Markio yang memegang alat musik. Gitar. Tiga yang lain hanya berdiri di belakangnya.

Sementara Raechan, dia duduk dengan mic di tangan kanannya. Matanya menatap lurus ke arah Kayana yang masih duduk di sofa.

Melodi yang berasal dari senar gitar yang Markio petik mengalun dengan merdu, beriringan dengan suara lembut Raechan.

If I was your boyfriend, I'd never let you go I can take you places you ain't never been before Baby take a chance or you'll never ever know I got money in my hands that I'd really like to blow Yeah, on you Chillin' by the fire while we eating fondue I dunno about me but I know 'bout you So say hello to falsetto in three two, swag

Lagu ini...

Lagu Boyfriend milik Justin Bieber dalam versi akustik.

I'd like to be everything you want Hey girl, let me talk to you If I was your boyfriend, I'd never let you go I'd keep you on my arm girl, you'd never be alone And I could be a gentleman, anything you want If I was your boyfriend, I'd never let you go, I'd never let you go

“Ca, lagu ini.....” Jelena berucap takjub.

“Kenapa sama lagunya?” Kayana bertanya, sangat lirih, dia masih seperti tersirih oleh suara Raechan.

“Dua tahun lalu, Raechan pernah bilang ke kita, kalau dia beneran sayang sama seorang perempuan, dia bakal nyanyiin lagu ini buat perempuan itu.”

Klarisa tersenyum lembut sebelum melanjutkan, “Dan ini pertama kalinya dia nyanyiin lagu ini.”