Raechan dan Keseriusannya

4 Juli 2014.

Pertama kali Raechan, Jaenandra, Jevan, Juan dan Markio bermain billiard bersama di sebuah arena permainan billiard yang mereka sewa dengan uang jajan yang mereka satukan. Saat itu, mereka masih anak-anak ingusan yang bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang stick billiard dengan benar. Saat itu, mereka sama sekali tidak berpikir bahwa enam tahun setelahnya, mereka akan kembali datang ke sini dengan formasi lengkap.

Mereka berdiri di sisi meja billiard dengan stick di tangan masing-masing, fokus pada permainan. Karena sebelumnya mereka sudah memutuskan bahwa siapa yang kalah akan membayar makanan untuk malam ini. Mereka sudah berencana untuk datang ke sebuah restoran dengan menu makanan yang harganya tidak main-main.

“Kayaknya bakal Kak Kiyo lagi nih yang kalah.” Jaenandra berkomentar setelah melihat Markio gagal memasukkan bola ke dalam lubang. Laki-laki yang paling tua di antara yang lainnya itu langsung tersenyum kecut, kesal namun tidak bisa menyangkal karena dia sendiripun menyadari bahwa kemapuannya tidak begitu baik dalam permainan ini.

“Udah lah, langsung siapin aja kartu kredit lo, Kak.” Jevan menyambung setelah mengelus stick billiardnya dan bersiap memukul bola, “OKE!” teriaknya senang saat bola yang disasarnya berhasil masuk ke lubang.

“Nanti gue yang bayar parkirnya deh,” hibur Juan meskipun yang dihiburnya tidak merasa terhibur.

“Rae, giliran lo.” Jevan menyenggol lengan Raechan dengan sikunya karena laki-laki itu tampak tidak fokus pada permainan, “Kenapa sih diem aja dari tadi?”

“Kalau gue nikah muda, kalian masih mau temenan sama gue gak?”

“HAH?!”

Jaenandra hampir tersedak cairan yang sedang diminumnya, mata Juan hampir meloncat keluar, urat-urat muncul di sekitar leher Jevan karena dia terlalu keras berteriak dan Markio hampir melemparkan satu buah bola billiard ke wajah Raechan agar juniornya itu sadar.

“Gue pengen nikahin Kayana.”

“Wahhhh... Ni tempat kayaknya banyak setannya nih. Husss husss husss setan pergi husss.”

“Kayaknya kita harus bawa nih bocah ke dukun.”

Jaenandra mengangguk mantap, “Dibawa ke daerah rumah lo aja, Wan! Kata lo daerah sana masih banyak dukun pinter.”

“Boleh, nanti gue telpon Ibu gue dulu.”

“Gue gak kesurupan, njir.” Raechan memukul pelan pantat Jaenandra, “Gue beneran pengen nikah muda, sama Kayana.”

“Duduk yuk, Rae, duduk dulu. Ngomong yang bener.” Markio, sebagai yang tertua, berusaha memahami situasi, dia menarik Raechan dan membuatnya duduk di sofa yang berada di sudut ruangan, “Coba gimana tadi? Lo mau apa?”

“Nikah.”

“Sama?”

“Kayana.”

“Lo udah punya modal apa, Rae? Cinta? Gak usah ngaco, Kayana gak akan kenyang lo kasih makan cinta lo itu.”

“Gue udah kerja dari gue SMA, Kak. Duitnya gue tabung, cukup buat beli rumah. Sekarang, gue juga mau minta kerjaan yang lebih bagus di perusahaan Papa, biar gaji gue bisa ditabung, buat biaya hidup sama Kayana.”

Markio mengangguk paham, “Oke, let's say you are financially stable. Tapi gimana sama hal yang lainnya? Mental lo? Lo udah siap buat jadi seorang suami?”

Kali ini Raechan yang mengangguk pelan, “Gue anak paling tua, Kak. Udah biasa mimpin adik-adik gue. Oke mungkin kalian masih ragu tentang gue bisa stay sama satu cewek atau enggak, tapi gue beneran udah gak perduli ke cewek lain romantically setelah sama Kayana.”

“Orang tua lo bakal izinin emang, Rae?” Juan bertanya dengan nada serius.

“Mudah-mudahan, gue belum coba bilang sih.” Raechan mendesah pelan, “Rumah gue selalu ramai sama suara berantemnya Dama sama Selo, sampai gue gak tau kalau sebuah rumah bisa sesepi rumah Kayana karena gak ada adik-adiknya yang berantem disana. Setiap gue berangkat atau pulang, selalu ada salah satu dari kalian yang nebeng mobil gue, sampai gue gak tau kalau sebuah mobil bisa sesepi mobil Kayana karena cuma Kak Iren yang sesekali numpang di mobilnya. Kita selalu berusaha makan bareng tiap jam makan siang, sampai gue gak tau kalau seseorang yang terkenal kayak Kayana bisa duduk sendirian di kantin waktu makan siang. Semua hal itu bikin perasaan gue gak enak, bro.”

“Itu alasan lo nikahin Kayana?”

“Mungkin itu jadi salah satunya, tapi alasan terbesarnya ya karena dari awal gue emang mau serius sama Kayana, Kak.”

“Gue paham,” Markio menepuk-nepuk bahu Raechan, “Lo ngobrol dulu sama orang tua lo dan yang paling penting lo harus tanya dulu ke Kayana dia siap atau enggak. Kalau soal kita masih mau temenan sama lo atau enggak....”

“Ya jelas mau lah, Rae. Sampa kapanpun juga kita bakal tetep sama-sama.” sambung Jaenandra mantap dan langsung disetujui sahabatnya yang lain.