Age
Siang ini, kantin Fakultas Seni Rupa dan Desain, tempat Raechan dan teman-temannya makan siang, tidak terlalu ramai. Entah karena hari ini begitu terik hingga para mahasiswa malas berdesak-desakan di kantin atau karena ya memang mereka tidak lapar saja.
Raechan dan sahabat-sahabatnya memilih untuk duduk di area paling pojok, tempat dimana mereka tidak akan merasa terlalu kepanasan karena cahaya matahari terhalang oleh sebuah pohon rindang yang berdiri tidak terlalu jauh dari area kantin. Para wanita memilih sup buah dan para lelaki memilih untuk minum susu milo dingin dan memesan beberapa cemilan seperti kentang dan jamur goreng.
Asap rokok sudah mulai mengepul ke udara ketika Jevan dan Jaenandra menyalakan rokoknya, sedangkan Raechan memilih untuk menikmati makanan ringan yang dipesannya karena dia sadar, seorang gadis cantik tengah duduk di sampingnya. Dia tidak ingin asap rokok yang ditimbulkannya membuat sesak gadis cantik itu.
“Biasanya kalian ngapain kalau lagi ngerayain anniv brothership kalian gini?” Kayana bertanya karena ini baru pertama kali untuknya.
“Main billiard biasanya, Kak. Kalau udah capek lanjut minum sambil karaoke-an.” Jevan menjawab di sela hisapan rokoknya, “Tapi kayaknya malem ini gak bakal minum, deh. Masih kapok sama pengar yang kemarin.”
Ucapan Jevan membuat Jaenandra dan Markio bergidik ngeri mengingat betapa parahnya efek dari minuman beralkohol yang mereka minum tanpa aturan saat berlibur kemarin.
“Terus yang cewek-cewek biasanya kemana?” tanya Kayana lagi.
“Nonton ke bioskop paling, Kak. Kadang juga kalau lagi males, kita beli makanan aja terus ke studio, di sana nonton aja tuh drama atau series di Netflix.”
“Kalian suka K-Pop gak sih?”
Mata Klarisa dan Jelena langsung berbinar-binar saat mendengar pertanyaan Kayana, bahkan Jelena langsung menghadap Kayana sepenuhnya, “Sumpah, Kak, suka banget. Jangan bilang.....”
“Aku Nctzen.”
“AAAAAAA AKU JUGA, bias Kak Kayana siapa?”
“Johnny.”
“Kita bestie, bias aku Yuta!” Klarisa berseru, “Dan Elen...”
“Aku Taeyong, Kak!”
Mereka saling menatap, lalu sedetik kemudian mereka berteriak heboh, “EMANG YA PESONA 95 LINER TUH!!!!!”
“Ya udah nanti balik kampus kita ke studio Jevan aja, ya? Kita nonton di sana.”
“Neng, belajar, Neng, mau UAS inget.” Jaenandra berceloteh bersungut-sungut, kesal melihat tingkah kekasihnya yang selalu seperti itu ketika membahas idolanya.
Klarisa melirik sinis, “Ih diem deh yang absnya gak lebih bagus dari Yuta.”
“Yaudah gih sono ama Yuta sono, lu! Kagak usah ngerengek minta ditemenin sleep call ke gua lagi!”
“Hehehe walaupun absnya bagusan Yuta tapi kan aku sayangnya sama kamu.” Klarisa merengek manja, menarik-narik lengan kemeja Jaenandra yang digulung sampai siku.
“Lo berdua kalau mau romantis-romantisan jangan di depan gue kek! Milo gue jadi anyep nih!” Juan berbicara sambil melempar sepotong kentang ke arah Jaenandra.
“Lo cari pacar deh, Wan, biar gak sensi.” timpal Markio tenang.
Di tengah-tengah kericuhan para insan manusia itu, Raechan mendekatkan bibirnya ke telinga Kayana untuk berbisik pelan, “I'll never complain like him, do what you like, I'll try to like them too.”
Sekali lagi, perasaan “diterima” memenuhi relung hati Kayana. Membuatnya tersipu, hingga dia yakin saat ini pipinya memerah karena senang.
Selesai makan siang, Raechan dan Kayana berpisah dengan mereka semua karena Raechan berinisiatif untuk mengantarkan Kayana ke kelas. Kayana sudah menolak tawaran itu berkali-kali tapi Raechan tetap kekeh pada keinginannya.
“Raechan!”
Mereka baru sampai di jembatan yang menyambungkan antar gedung fakultas saat tiba-tiba suara seorang perempuan terdengar memanggil Raechan. Keduanya berbalik dan mendapati seorang gadis tengah tersenyum ke arah mereka—ke arah Raechan lebih tepatnya.
Gadis itu berlari mendekat kemudian sebelah tangannya mengulurkan sebuah kertas bercorak pink dan putih kepada Raechan, “Undangan ulang tahun gue, dateng ya!”
Raechan menyambut kartu undangan itu dan tersenyum santai, “Oke.” jawabnya.
“Gue juga undang Kak Kiyo, Jaenandra, Jevan sama Juan, mudah-mudahan mereka juga bisa dateng.”
“Temen-temen gue yang cewek gak lo undang?”
“Enggak, gue gak kenal soalnya. Pokoknya lo harus dateng ya!” Gadis yang tidak Kayana ketahui namanya itu mengerling manja pada Raechan dan membuat Kayana tersenyum geli.
“Iya gue dateng, temen-temen gue yang cewek juga kayaknya bakal pada dateng sih.”
Ekspresi gadis itu langsung berubah, masam, “Maksudnya?”
“Kalau lo undang Jenan sama Kak Kiyo, mereka pasti bakal ajak Ica sama Elen, kan ceweknya. Gue juga bakal ajak dia, kenalin nih, Kak Kayana, cewek gue. Ahhhh, gak usah dikenalin juga kayaknya lo udah tau sih ya Kak Kayana siapa.”
Wajah gadis itu semakin masam.
“Gue gak tau, Rae, kalau selera lo yang tua-tua gini.”
Raechan sudah akan membalas ucapan gadis itu saat Kayana menahan tangannya dan dia maju satu langkah mendekat pada gadis itu,
“Iya, ya? Saya juga gak tau ada apa sama cewek-cewek seumuran Raechan sampe dia harus susah-susah deketin yang tua-tua kayak saya gini.”
Kayana tersenyum tenang, “Mungkin yang tua kayak saya lebih tau attitude kali ya?”